Objek Wisata di Sulawesi Utara

22 10 2010

Sulawesi Utara telah ditetapkan sebagai satu dari lima daerah tujuan wisata dan satu dari 10 daerah yang dapat menyelenggarakan MICE memiliki objek-objek wisata yang cukup menarik diantaranya Wisata Bahari antara lain;

Taman Laut Bunaken, Pulau Siladen, Mantehage dan hamparan Taman Laut di Sangihe Talaud, dan Bolaang Mongondow;
Wisata Alam antara lain; Taman Nasional Dumoga Bone di Bolaang Mongondow, Cagar Alam Tangkoko Batu Angus di Bitung, Danau Tondok, Gunung Ambang di Bolaang Mongondow dan Sumaru Endo di Danau Tondano;
Wisata Peninggalan Sejarah Budaya berupa Kuburan Tua/ Waruga di Sawangan, dan Gua Peninggalan Jepang di Kawangkoan;
Wisata Religi antara lain; Bukit Kasih dan Bukit Doa Pinaling;
Wisata Pantai antara lain; Pantai Tasik Ria, Pantai Kalasei, Pantai Hais, Pantai Kora-Kora dan Pantai Tanjung Merah di Minahasa, Pantai Molas di Manado, Pantai Molosing dan Labuan Uki di Bolaang Mongondow;
Wisata Pemandian Air Panas banyak tersebar di Minahasa bagian tengah seperti di Tondano, Remboken, Passo dan Langowan.
Wisata Tirta, untuk jenis wisata ini dapat dinikmati pada hampir semua sungai dan danau yang ada di daerah ini, seperti Danau Tondano dan DAS Tondano serta Danau Moat di Minahasa.
Untuk menunjang kinerja sektor pariwisata ini, terutama aktivitas turis yang berkunjung ke daerah ini baik wisatawan domestik maupun mancanegara, maka telah tersedia sarana dan prasarana seperti; Hotel (taraf Melati s/d berbintang empat), Restoran, dan Industri Wisata serta Art Shop

TEMPAT OBJEK WISATA DI PROVINSI SULAWESI UTARA :

Wisata Bahari Taman Laut Bunaken

P Bunaken1Taman Laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken berada dipesisir pada pulau pulau di Teluk Manado, yang terletak di utara pulau Sulawesi. dan Pulau ini merupakan bagian dari kota Manado, Sulawesi Utara.
Kawasan ini (Pulau Bunaken) dapat di tempuh dengan kapal cepat , carteran sekitar 30 menit dari pelabuhan kota Manado.
ph2234660620029448148Keistimewaannya memiliki kekayaan Taman laut dengan  biodiversitas kelautan salah satu yang tertinggi di dunia
Taman laut Bunaken meliputi  pulau Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage , dan Pulau Naen.
Lokasi penyelaman (diving) hanya terbatas di masing-masing pantai yang mengelilingi kelima pulau itu.

Sail Bunaken yang dilaksanakan pada 12-20 Agustus 2009 ,diikuti sekitar 25 kapal perang asing dari 14 negara, tiga “tall ships”, 158 “yacht” (kapal layar) serta sejumlah KRI.
Yang Menyelam pada Tgl 15 Agustus 2009 sebanayk 2657 orang (pemecahan rekor dunia)

Danau Linou

Danau Linou (Jeanie Barnett's)Danau Linou – Tomohon - Sulawesi Utara, sebagai obyek wisata alam mempunyai ciri khas karena pantulan sinar matahari, permukaan danau Linou akan menampilkan warna yang berbeda. Disebabkan danau ini banyak mengandung belerang,
Kungkin tidak ada ikan, udang atau makhluk lain di danau Linou ini, kecuali capung yang beterbangan menghiasi danau dan bertelur di sini.
Berjalan di tepi danau Linou yang sangat indah memberikesan kedamaian, ketentraman dan kebahagian yang tiada taranya

Danau Tondano

Danau TondanoDanau Tondano – Minahasa – Sulawesi Utara tidak dapat dipisahkan dari pantai kora kora, sebagai wisata alam, Danau Tondano dengan refleksinya yang sangat indah ,udaranya yang segar di pagi hari dan semburan cahaya fajar dari balik barisan pegunungan menerpa permukaan danau seluas  4.278 hektare,  menambah keindahan danau dengan perpaduan warna orange dan perak berkilau indah.
Refleksi Permukaan danau yang sangat teduh, fantastik , menggambarkan  kembali bayangan bukit dan langit berawan tipis di atasnya. yang sesekali hamparan itu berpendar, terbelah oleh perahu nelayan yang sedang menangkap ikan.

Jalan-jalan yang menyusur pinggiran Danau Tondano, mengantar ke sisi lain yang semakin eksotis. Hamparan sawah menghijau . Rumah kayu berarsitektur Eropa. dengan Cerobong asap yang menyembul.
Sekeliling jalan yang berkelok dihiasi dengan pemandangan hutan tropis yang lebat , penghujung jalan ini mengantarkan ke Pantai Kora Kora.
Bibir pantai Kora-kora ,berkelok-kelok indah. Hamparan pasir putih bersih menjadi pembatas antara laut dan aneka pepohonan hijau di atasnya. Air laut yang sangat bening menampakan  ikan sekecil mungil yang sedang bermain.

Gunung Mahawu

Gunung MahawuGunung Mahawu adala salah-satu gunung yang mengapit Kota Tomohon, dan disisi lainnya adalah Gunung Lokon. Sebagai Obyek Wisata Alam di Sulawesi Utara, Gunung Mahawu merupakan gunung berapi stratovolcano yang terletak di timur gunung berapi Gunung Lokon-Gunung Empung di Sulawesi Utara.
Gunung Mahawu memiliki lebar 180 m dan kedalaman kawah 140 m dengan dua kerucut Piroklastik di lereng utara.
Tahun 1994 terjadi letupan lumpur fumarol dan aktivitas geyser yang terjadi sepanjang danau kawah yang berwarna kehijau-hijauan

Mencapai lokasi ini dari Tomohon ke Rurukan. Kemudian berjalan kaki melalui jalan setapak yang melawati kebun kebun sayur dan akhirnya mencapai puncak (Ketinggian 1324mdpl), setelah melalui hutan yang rinbun dan indah dan kawasan kerucut kawah yang ditumbuhi rerumputan (ketinggian 1200 mdpl)

the-craterMenikmati mata-hari terbit di pagi buta yang terasa senyap dan diselimuti kabut tebal yang sangat dingin di puncak gunung Mahawu yang kadang kadang diselingi dengan  tamparan angin membekukan sendi tulang perlahan lahan sirna menampakan langit  menjadi kebiruan dan nuansa hijau pepohonan yang menghiasi hutan sekitar gunung Mahawu

Rumah Kayu Woloan

Woloan – Minahasa – Sulawesi Utara, sangat terkenal di Asia Tenggara karena mempunyai keahlian khusus yaitu membuat Rumah Kayu dan menjadikan Woloan sebagai obyek wisata minat khusus .
rumah kayu woloan_rumah_comRumah kayu Woloan dibanjiri permintaan dari berbagai daerah atau dari beberapa negaa di Asia Tenggara.Filipina dan Malaysia. Rumah berbahan kayu sebenarnya tidak hanya dibuat oleh pengerajin di Woloan Tomohon. Di beberapa daerah lainnya di kabupaten Minahasa Selatan seperti Mokobang, Motoling juga terdapat tukang pembuat rumah kayu ini.
Rumah berbahan kayu awalnya berdisain rumah adat Minahasa, namun seiring perkembangan jaman, disainnya berkembang pula. Banyak yang memodifikasi menjadi rumah kayu modern. Keunggulan lain dari rumah ini adalah sangat cocok di daerah rawan gempa seperti Minahasa, Filipina, Jepang dan beberapa negara kepulauan di Pasific.

Sungai Nimanga

gried_multiplySungai Nimanga terletak di desa Timbukar – Minahasa – Sulawesi Utara, obyek wisata yang terlengkap, Wisata Alam, Sungai , Air terjun, Hutan, Budaya , dan olah raga , arung jeram yang baik karena sungai ini memiliki grade III-V . yaitu karakteristik sungai jeram – flat water, jadi cukup aman diarungi. Apabila perahu terbalik dari jeram, lebih mudah untuk penyelamatan karena di depan sudah pasti ada flat water.
Selain itu menyuguhkan wisata alam , sungai dengan keindahan sungai yang berkelok-kelok bersumber dari dua air terjun yaitu Air Terjun Tincep 70 mtr  dan Air Terjun Timbukar 90 mtr, disekitar sungai Nimanga terdapat dataran agak datar tempat camping, hutan lebat menghiasi sepanjang Sungai Nimanga diserta sahutan satwa liar misalnya berbagai jenis Burung, Monyet khas Sulut, dan Tarsius . Sejak dahulu kala , Masyarakat sekitar kawasan ini sangat cekatan membuat saguer sejenis tuak .

Waruga

Waruga adalah situs sejarah untuk peninggalan megalit yang termasuk dalam jenis peti kubur batu di Minahasa – Sulawesi Utara.

petra_ac_idBenda ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian badan dan bagian tutup. Kedua bagian ini masing-masing terbuat dari sebuah batu utuh (monolith), umumnya berbentuk kotak segiempat (kubus) untuk bagian badannya dan hanya sedikit yang berbentuk segidelapan atau bulat. Selain itu, bagian tutupnya menyerupai atap rumah

Waruga ini berfungsi sebagai wadah kubur bagi orang yang meninggal di dalam satu keluarga. Setiap waruga diperkirakan dipakai menguburkan beberapa orang dari anggota keluarga yang meninggal. Di dalam waruga biasanya ditemukan tulang-tulang manusia yang berasosiasi dengan benda lain seperti : keramik cina, perhiasan dan alat-alat logam, serta manik-manik. Tulang-tulang tersebut merupakan sisa-sisa tulang manusia yang pernah dikubur dengan disertai bekal kuburnya yang terdiri atas : piring, mangkuk, dan jenis-jenis keramik lainnya, gelang perunggu, kalung perunggu, pisau perunggu, parang perunggu, manik-manik, dan lain sebagainya.

Kebanyakan waruga dihiasi baik bagian wadah maupun bagian tutupnya. Adapun jenis-jenis hiasannya terdiri atas motif manusia, motif tumbuhan yang distilir (sulur-suluran), motif geometri (garis-garis, segitiga dan lain-lain), motif binatang dan lain sebagainya. Hiasan yang cukup menarik dari waruga ialah manusia kangkang dan manusia yang sedang melahirkan. Di antara waruga ada yang berukuran cukup besar yaitu : tinggi wadah 1,5 m, lebar wadah 1 m, dan tinggi tutup 1,45 m, sehingga tinggi keseluruhan mencapai hampir 3 meter. Peti kubur batu yang disebut waruga di Minahasa secara keseluruhan mencapai jumlah 1335 buah.

liburan_info2Waruga di Minahasa tersebar hampir di semua Wilayah Kerja Daerah Tingkat II Kabupaten Minahasa yaitu : Wilayah Kerja Tonsea, Tomohon, Tolour, Kawengkoan, dan Amurang. Di Wilayah Kerja Tonsea, waruga ditemukan di Desa Kokoleh, Likupang, Wangurer, dan Batu yang semuanya termasuk ke dalam Kecamatan Likupang; di Desa Matungkas, Paniki Atas, Paniki Bawah , dan Tatelu di Kecamatan Dimembe; di Desa Airmadidi Bawah, Sawangan, Kawengkoan, Kolongan, Tanggari, Kuwil, dan Di Maumbi di Kecamatan Airmadidi; di Desa Kasar, Tumaluntung, dan Kema di Kecamatan Kauditan. Waruga juga ditemukan di Wilayah Kerja Kawangkoan yaitu : di Desa Palamba, Winubetan, Nimawale, dan Tompaso di Kecamatan Langowan; serta di Desa Kaneyan di Kecamatan Tareran; demikian juga di Desa kiawa, Kayuuwi, Kanonang, Talikuran dan Uner di Kecamatan Kawangkoan; selain itu di Wilayah Kerja ini waruga ditemukan dim Kecamatan Sonder. Di Wilayah Kerja Tolour waruga ditemukan di Desa Nimawale dan Koya di Kecamatan Tondano, serta di Desa Kakas di Kecamatan kakas. Waruga di Wilayah Kerja Tomohon ditemukan di Desa Kakas kasen, Woloan, Tara-Tara, Kayawu, Matani, Kolongan dan di Lansot di Kecamatan Tomohon, serta di Desa Lolah dan Ranowangko di Kecamatan Tombariri. Di Wilayah Kerja Amurang waruga ditemukan antara lain di Desa Lelema, Popontolen, Popareng dan tumpaan di Kecamatan Tumpaan; serta di desa Rumoong Bawah di Kecamatan Tombasian, dan di desa Radey, di Kecamatan Tenga.

 

Musik Kolintang

Musik Kolintang, Kolintang, alat musik Minahasa yang mendunia ,Doeloenya Penggunaan kolintang di Minahasa erat hubungannya dengan budaya – kepercayaan rakyat Minahasa – sulawesi utara, yang biasanya dipakai dalam upacara upacara pemujaan arwah arwah para leluhur.

kolintang_2_bp_blogspotAlat musik kolintang termasuk jenis instrument perkusi ,Alat musik itu disebut kolintang karena apabila di pukul berbunyi : Tong-Ting –Tang.
Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemain yang duduk selonjor di lantai.dan dipukul pukul.
Fungsi kaki sebagai tumpuan bilah bilah kayu(wilahan/tuts) kemudian diganti dua potong batang pisang atau dua utas tali.
Konon penggunaan peti resonator sebagai pengganti batang pisang mulai di gunakan sesudah Pangeran Diponegoro di buang ke Menado (tahun 1830) yang membawa serta “gambang” gamelannya.

Penggunaan kolintang erat hubungannya dengan kepercayaan rakyat Minahasa,yang biasanya dipakai dalam upacara upacara pemujaan arwah arwah para leluhur.
Dengan berkembangnya agama Kristen yang di bawa oleh misionaris misionaris Belanda,eksistensi kolintang yang merupakan bagian dari kepercayaan animisme menjadi demikian terdesak bahkan hampir punah,menghilang selama lebih dari 50 tahun.
Setelah perang Dunia II,kolintang muncul kembali dipelopori oleh Nelwan Katuuk, seniman tuna netra asal Minahasa bagian utara yang merangkai nada kolintang menurut skala diatonis.

Pada tahun 1952,di Minahasa bagian selatan (Ratahan) seorang anak berusia 10 tahun , terinspirasi membuat kolintang dengan dasar petunjuk orang orang tua yang pernah melihat kolintang dan dari mendengar suara musik kolintang yang di populerkan lewat siaran Radio.
Sulitnya hubungan transportasi antara Minahasa bagian utara dengan Minahasa bagian selatan pada waktu itu tidak meluruhkan semangat anak tersebut untuk berkreasi tanpa melihat contoh, dengan bermodal potongan potongan kayu bakar yang diletakkan di atas dua batang pisang dan di tuning (stem) nada natural dengan rentang nada 1 oktaf.

Sebuah prestasi yang luar biasa jika pada tahun 1954 ,yang kala itu masih terbilang bocah mampu membuat kolintang dua setengah oktaf nada diatonis dengan peti resonator. Kemampuannya terus terasah dan berkembang, terbukti pada tahun 1960 berhasil meningkatkan rentang nada menjadi tiga setengah oktaf yang dimainkan oleh dua orang pada satu alat.

 

Pantai Likupang

pantai likupangPantai Likupang – Bitung – Sulawesi Utara, sebagai obek wisata sangat terkenal dengan keindahan alam -nya dengan pesona pantai yang nyaman serta pernah heboh ,ditemukan penyu hijau (chelonia mydas) yang sangat langka.
Bersantai di Pantai  yang berpasir putih halus dan bersih ,Menyelam dan snorkling dapat dilakukan di pantai ini atau melanjutkan wisata ke Taman Laut di Pulau Bangka 30 menit dengan perahu motor atau kepantai lainnya di Likupang yaitu  Balubu, Lihaga, Masabora, Sahaung dan Pulisang

Lokasi Pantai Likupang di 48 Km dari  Kota Menado, tepatnya di Kecamatan Likupang, Kabupaten Bitung Paling Utara Sulawesi Utara

 

Tari Kabasaran

Tari Kabasaran, merupakan Tari Perang, tarian tradisional Minahasa – sulawesi utara yang menceritakan bagaimana suku Minahasa mempertahankan tanah Minahasa dari musuh yang hendak mendudukinya. Tari Kabasaran atau Tari Perang ini memperagakan Pedang Perisai dan Tombak. Tarian Kabasaran ini ditarikan untuk acara-acara khusus seperti Penyambutan tamu dan atau diberbagai Acara wisata budaya .

kabasaran_imageshack.usMenari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian lainnya di Indonesia yang umumnya mengumbar senyum dengan gerakan yang lemah gemulai.

Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung.

Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut “Pa ‘ Wasalen” dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.

Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi Kabasaran yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar-pembesar.

Pada jaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari kabasaran menjadi Waranei (prajurit perang). Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan.

Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :

  1. Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.
  2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.
  3. Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.

Sangat disayangkan bahwa sejak tahun 1950-an, kain tenun asli mulai menghilang sehingga kabasaran Minahasa akhirnya memakai kain tenun Kalimantan dan kain Timor karena bentuk, warna dan motifnya mirip kain tenun Minahasa seperti : Kokerah, Tinonton, Pasolongan, Bentenen. Topi Kabasaran asli terbuat dari kain ikat kepala yag diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Hiasan ornamen lainnya yang digunakan adalah “lei-lei” atau kalung-kalung leher, “wongkur” penutup betis kaki, “rerenge’en” atau giring-giring lonceng (bel yang terbuat dari kuningan).

Pada jaman penjajahan Belanda tempo dulu , ada peraturan daerah mengenai Kabasaran yang termuat dalam Staatsblad Nomor 104 B, tahun 1859 yang menetapkan bahwa

  1. Upacara kematian para pemimpin negeri (Hukum Basar, Hukum Kadua, Hukum Tua) dan tokoh masyarakat, mendapat pengawalan Kabasaran. Juga pada perkawinan keluarga pemimpin negeri.
  2. Pesta adat, upacara adat penjemputan tamu agung pejabat tinggi Belanda Residen, kontrolir oleh Kabasaran.
  3. Kabasaran bertugas sebagai “Opas” (Polisi desa).
  4. Seorang Kabasaran berdinas menjaga pos jaga untuk keamanan wilayah setahun 24 hari.

Kabasaran yang telah ditetapkan sebagai polisi desa dalam Staatsblad tersebut diatas, akhirnya dengan terpaksa oleh pihak belanda harus ditiadakan pada tahun 1901 karena saat itu ada 28 orang tawanan yang melarikan diri dari penjara Manado. Untuk menangkap kembali seluruh tawanan yang melarikan diri tersebut, pihak Belanda memerintahkan polisi desa, dalam hal ini Kabasaran, untuk menangkap para tawanan tersebut. Namun malang nasibnya para tawanan tersebut, karena mereka tidak ditangkap hidup-hidup melainkan semuanya tewas dicincang oleh Kabasaran. Para Kabasaran pada saat itu berada dalam organisasi desa dipimpin Hukum Tua. Tiap negeri atau kampung memiliki sepuluh orang Kabasaran salah satunya adalah pemimpin dari regu tersebut yang disebut “Pa’impulu’an ne Kabasaran”. Dengan status sebagai pegawai desa, mereka mendapat tunjangan berupa beras, gula putih, dan kain.

Sungguh mengerikan para Kabasaran pada waktu itu, karena meski hanya digaji dengan beras, gula putih, dan kain, mereka sanggup membantai 28 orang yang seluruhnya tewas dengan luka-luka yang mengerikan.

 

Tari Maengket

Adalah tari tradisional, seni budaya Minahasa – Sulawesi Utara yang dari Zaman dulu kala sampai saat ini terus dikembang. Tari Maengket sudah ada ditanah Minahasa sejak rakyat Minahasa mengenal pertanian. Tari maengket dilakukan pada saat sedang panen hasil pertanian dengan gerakan-gerakan sederhana. Sekarang tarian Maengket telah berkembang teristimewa bentuk dan tarinya tanpa meninggalkan keasliannya.

Tari Maengket terdiri dari 3 babak yaitu : Maowey Kamberu, Marambak, Lalayaan.
Maengket_suara_manadoMaowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan pada acara pengucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana hasil pertanian terutama tanaman padi yang berlipat ganda/banyak.
Marambak adalah tarian dengan semangat kegotong-royongan, rakyat Minahasa Bantu membantu membuat rumah yang baru. Selesai rumah dibangun maka diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasa daerah disebut “rumambak” atau menguji kekuatan rumah baru dan semua masyarakat kampong diundang dalam pengucapan syukur.
Lalayaan adalah tari yang melambangkan bagaimana pemuda-pemudi Minahasa pada zaman dahulu akan mencari jodoh mereka. Tari ini juga disebut tari pergaulan muda-mudi zaman dahulu kala di Minahasa.

 

Masakan Khas Manado

Masakan khas Manado - Sulawesi Utara yang sudah masuk kategori selera Nusantara adalah Bubur Manado atau Tinotuan dan Masakan Woku

Bubur Manado

bubur manado ellengajatmi_wp

Bubur Tinotuan , atau lebih populer dengan nama Bubur Manado, merupakan salah satu makanan khas dari Kota Manado, Sulawesi Utara. Makanan ini boleh dikatakan telah menusantara, karena dapat ditemukan disemua kota dan sesuai selera nusantara, lagi pula sangat sarat dengan Gizi.

 

Bahan :
1 mangkok bubur
100g-kangkung- yang sudah dipetik dari tangkainya
2 buah jagung muda, disisir
250g -ubi jalar- merah, dipotong dadu dan direbus
50g -daun melinjo
50g -daun kemangi
1sdt garam
½sdt gula pasir
200ml -air
100g -ikan asin

Cara membuat :

  • Rebus bubur beserta air hingga mendidih, kemudian masukkan ubi masak hingga tercampur rata.
  • Masukkan jagung, kangkung, daun melinjo, daun kemangi, garam, dan gula. Masak hingga sayur cukup matang.
  • Sajikan dengan ikan asin.

Masakan Woku

woku_ikanIkan masak woku adalah maskan khas buatan Menado. Sangat nikmat dan  menjadi favorit di semua kota yang doyan dengan ikan .
Ada dua macam sajian woku yaitu woku belanga dan woku bakar. Sedangkan ikannya bisa dari air tawar (yang enak jenis mujair), bisa pula dari ikan laut. Dari beberapa tempat restoran , tercatat juga sebagai Selera Nusantara

Bahan :

* 600 gr (2 ekor) ikan ,potong dua bagian
* 3 batang Serai dirajang halus
* 5 lembar Daun jeruk dirajang halus
* 1/2 lembar Daun kunyit dirajang halus
* 3 batang Daun bawang dirajang
* 1 genggam Daun kemangi
* 2 buah Tomat dipotong 8 bagian
* 3 sdm Daun jeruk
* 4 sdm Minyak untuk menumis

Bumbu yang dihaluskan:

* 10 buah Cabe rawit merah
* 5 buah Cabe merah
* 7 buah Bawang merah
* 5 cm Jahe
* 2 sdt Garam

Cara membuat:

* Panaskan minyak , tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum dan matang kemudian masukkan serai, daun jeruk, daun kunyit, daun bawang, aduk hingga beraroma harum.
* Masukkan ikan mas, aduk hingga seluruh permukaan ikan terlumur dengan bumbunya.
* Letakkan daun kemangi di atas ikan kemudian tutup , teruskan memasak hingga ikan benar-benar matang, angkat dan sajikan.

(dari berbagai sumber)

About these ads

Aksi

Information

One response

29 10 2010
santi

nice post

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: