Letusan Sinabung: Musibah atau Anugerah?

11 09 2010

Mungkin bukan hanya saya, sebagian besar warga Sumatera utara mungkin tidak tahu kalau Gunung Sinabung adalah gunung yang aktif. Sebab itulah letusan Gunung Sinabung begitu mengejutkan.

Untungnya, meskipun peningkatan aktivitas gunung ini cukup ekstrem dari status normal kepada awas dalam hitungan jam, tak ada korban jiwa yang ditimbulkan. Seolah Gunung Sinabung hanya memberi sinyal kecil bahwa ia masih ada dan patut diperhitungkan dalam hiruk pikuk masalah lingkungan kita.

Gunung Sinabung terakhir meletus pada sekitar tahun 1600-an. Tidak seperti gunung-gunung lainnya di Indonesia yang kerap menunjukkan aktifitasnya, gunung ini sekitar 400 tahun lebih mirip sebuah bukit yang besar dan tinggi. Itulah sebabnya sosialisasi dan pengawasan Gunung Sinabung begitu minim. Seolah gunung ini seperti mengetahui sisi lemah kita dalam hal kewaspadaan, ia memberikan sinyal kecil dengan letusannya itu.

Pengawasan dan sosialisasi tentang aktifitas Gunung Sinabung harus ditingkatkan sejak saat ini. Ia harus diwaspadai sama dengan gunung-gunung lainnya di Indonesia yang aktif, seperti Gunung Semeru, Merapi, atau Galunggung. Sebab, lokasi gunung ini adalah di Berastagi yang merupakan sentra produksi sayuran dan pariwisata di Sumatera Utara. Artinya, kondisi Gunung Sinabung berkaitan dengan aspek pangan dan ekonomi Sumatera Utara.

Harus diakui bahwa adanya gunung aktif di daerah agrowisata seperti pisau bermata dua. Ia bisa membuat perekonomian melambat denyutnya karena faktor keselamatan. Namun, ia bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk warga Sumatera Utara yang mayoritas belum pernah melihat gunung berapi.

Maka dari itu, perlu sosialisasi tentang gunung ini lebih aktif lagi agar efek negatif dari letusannya bagi perekonomian dapat diminimalisir. Sejujurnya, saya pribadi tidak hanya melihat aspek bahaya dari gunung ini. Letusan ini memang mengejutkan, tetapi membuat saya merasa bahwa lingkungan tempat kita tinggal, Sumatera Utara, sangat lengkap. Ada danau terbesar di dunia, tanah yang datar dan bergelombang, sentra produksi agrowisata, pertanian tanaman keras, musim yang normal, dan sosialitas yang lebih kondusif.

Tidak perlu menyalahkan siapapun atas minimnya sosialisasi dan pengawasan. Empat abad vakum sebagai gunung berapi menjadi toleransi besar atas pengawasan dan sosialisasi yang minim itu. Apalagi jika kita ingat bahwa pemerintah Indonesia ada dan baru efektif sekitar 65 tahun, ditambah lagi dengan banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa. Maka, akan sangat baik jika pengawasan dan sosialisasi difokuskan pada persoalan pascaletusan. Persoalan kebutuhan hidup warga, evakuasi, kesehatan anak-anak, dan kerugian sektor agrowisata.

Justru sikap kita yang selalu mengkritik pemerintah kali ini akan semakin memperkeruh suasana. Efek letusan masih setara dengan banjir tahunan, tetapi bisa menjadi letusan yang besar jika dibesar-besarkan. Perlu kedewasaan dan kesejukan dalam menyiarkan informasi tentang letusan gunung ini. Akan lebih baik jika aspek kebaruan dan keunikan dari gunung ini bagi masyarakat sekitar lebih ditonjolkan. Sebab, masyarakat Sumut lebih kenal dengan gunung-gunung aktif di Pulau Jawa dibanding di sekitarnya sendiri.

Harga Sayuran

Bisa dipastikan bahwa letusan gunung yang momentumnya sama dengan pelaksanaan puasa dan lebaran akan mempengaruhi harga kebutuhan pokok di Sumatera Utara. Maka, sebaiknya pemerintah segera mencari jalan keluar agar dampak ekonominya tidak terlalu besar. Di samping penanganan para pengungsi, pemerintah punya tugas yaitu memastikan bahwa pasokan sayur-mayur dan harganya tidak terlalu terganggu.

Sektor agrowisata Berastagi yang terkena dampak negatifnya memang tidak bisa dihindarkan. Namun, sektor ini kurang berhubungan dengan kebutuhan pokok masyarakat luas. Artinya, pemerintah bisa lebih fokus pada penanganan pengungsi dan kebutuhan pangan masyarakat. Misalnya, dengan memberikan bantuan bagi petani yang lahannya terkena dampak letusan. Bisa juga dengan menjamin pasokan pangan sayur tetap lancar pada bulan puasa dan menjelang lebaran ini. Pendek kata, letusan ini harus ditangani secara tenang, moderat, dan terprogram.

Harus diakui bahwa letusan gunung terabaikan dalam variabel-variabel ekonomi dan pangan Sumatera Utara. Ini merupakan fenomena baru yang dampak positif dan negatifnya masih sekedar diraba-raba bentuknya. Tapi yakinlah, ada berkah Tuhan di balik letusan gunung ini. Mungkin material-material letusan itu memang unsur yang dibutuhkan untuk tanaman pangan, khususnya sayur-sayuran.

Oleh karena itu, faktor pengawasan dan sosialisasi harus fokus kepada tiga aspek. Pertama, dampak negatif dari letusan bagi kehidupan dan pertanian warga di lokasi. Mereka harus mendapat bantuan materil dan informasi. Bantuan materil terutama dalam bentuk penyelamatan harta benda mereka yang tak sempat dibawa mengungsi. Bisa juga dalam bentuk pengamanan harta benda mereka karena menurut informasi yang beredar, letusan gunung belum sampai merusak rumah-rumah penduduk. Ini lebih baik dilakukan karena merupakan tindakan pencegahan kerugian.

Selain itu, bantuan informasi tentang kondisi terkini gunung secara intensif. Tak dapat dihindari bahwa letusan ini menyebabkan trauma. Mungkin, lebih trauma dibanding gempa bumi karena gempa bumi bukan lagi hal baru bagi kita. Letusan gunung menakutkan dan membuat warga di sekitar mungkin akan sulit tidur jika sudah kembali nanti.

Informasi harus valid, dalam arti bisa dipercaya kebenarannya. Bagaimanapun, sesuatu yang mendadak dan baru itu belum diimbangi oleh SDM yang seimbang. Masyarakat di sekitar tahu bahwa SDM yang tersedia masih kalah dibanding dengan daerah lain yang memang selalu terancam oleh letusan gunung. Maka, informasi itu harus digali oleh tenaga-tenaga ahli dan disebarkan secara intensif.

Aspek yang kedua adalah penanganan pengungsi, terutama persoalan kesehatan, pangan, dan trauma anak-anak di pengungsian. Warga yang dievakuasi sangat mungkin terserang stres atau penyakit-penyakit lain yang biasa menyerang dalam situasi darurat. Obat-obatan dan bantuan pakaian adalah mutlak harus ada. Ketersediaan air bersih juga sering menjadi masalah setiap ada bencana.

Anak-anak bisa sangat trauma karena melihat keangkeran dari gunung yang selama ini mereka kenal sebagai gundukan tinggi yang indah dan hijau. Maka dari itu, mereka perlu disembuhkan dari trauma itu, tanpa membuat mereka lupa pentingnya kewaspadaan sejak saat ini. Mereka perlu dikenalkan dengan keramahan gunung itu selama ini, yang menjadi habitat asli lingkungan setempat. Bahwa Gunung Sinabung adalah sahabat mulai mereka kecil dan harus diwaspadai kelak mereka besar jika menetap di tanah kelahirannya itu. Mainan anak-anak adalah hal kecil yang bermanfaat besar bagi anak-anak untuk menghilangkan trauma mereka.

Dalam dua aspek yang pertama ini, dibutuhkan gotong- royong oleh masyarakat Sumatera Utara. Posisi pemerintah adalah sebagai lokomotif dan koordinator bantuan. Pemerintah harus dengan sungguh-sungguh menyiapkan segala perangkat untuk menangani gunung ini sejak sejarah dan masa-masa yang akan datang. Sebab, pemerintah Sumut belum pernah dan belum berpengalaman dalam menangani persoalan gunung berapi. Baru kali pertama ini.

Aspek yang ketiga adalah tidak membawa masalah ini ke ranah politik lagi. Pasti letusan gunung yang bersamaan dengan puasa dan lebaran akan membuat harga kebutuhan semakin mahal. Selain mahal, pasokan pasti terganggu. Ini cukup menyulitkan dalam situasi lebaran nantinya.

Minimya sosialisasi dari otoritas tentang gunung selama ini masih bisa ditoleransi oleh letusan yang tidak banyak menimbulkan kerugian. Jadi, jangan lagi dipolitisir. Pemerintah masih bisa disalahkan karena hal ini, tetapi kasihan rakyat dan pengungsi itu, mereka malah dijadikan komoditas politik lokal maupun nasional.

Kenaikan harga-harga sayuran harus ditangani cepat oleh pemerintah jika memang letusan berdampak signifikan pada harga-harga tersebut. Sebab, jika sudah masuk kepada persoalan kenaikan harga, politisasi biasanya tak terhindarkan lagi. Jika pun tak bisa menghindari aroma politis, setidaknya jangan berlama-lama karena Sumut punya “momongan” baru dalam masalah lingkungan dan bencana ini.

“Momongan” baru ini akan semakin membesar pada waktu-waktu yang akan datang. Maka, ia harus diperlakukan secara intensif dan penuh kewaspadaan, jangan sampai ia menjadi tidak terkendali menjadi momok bagi keselamatan warga setempat dan perekonomian.

Sektor Agrowisata

Agrowisata adalah sektor andalan daerah Berastagi selama ini. Dipastikan, masalah letusan ini akan memukul sektor ini. Tapi, ada momentum besar untuk mengimbangi masalah ini, yaitu lebaran. Daerah-daerah wisata adalah magnet bagi wisatawan pada saat-saat libur panjang. Jadi, lebaran kali ini adalah sekaligus indikator bagi dampak negatif letusan ini nantinya.

Terpukul atau tidaknya sektor pariwisata akan sangat terlihat dari kunjungan wisatawan nantinya. Oleh karena itu, otoritas setempat harus jeli melihat hal ini, apa yang harus dilakukan nantinya. Jangan lagi terlambat dalam mengantisipasi berbagai efek negatifnya. Justru, adanya gunung berapi adalah potensi wisata yang sangat besar karena, jujur saja, saya sendiri pun belum pernah melihat secara langsung gunung berapi yang sedang beraksi.

Kini, gunung berapi itu ada di dekat kita. Menjadi anugerah atau musibah adalah sepenuhnya tergantung kepada kita sendiri dalam memperlakukannya. Saya secara pribadi mengatakan bahwa ini berkah karena Sumut adalah provinsi yang lengkap dari sisi alamnya. Namun, berkah bisa jadi musibah jika lupa mensyukuri nikmat-Nya itu.

Akhir kata, selamat karena kita telah mempunyai gunung berapi yang benar-benar berapi. Perlu diketahui bahwa di dalam samudera pun ada gunung berapi. Artinya, tidak ada yang perlu ditakutkan, hanya diwaspadai. *** (Hari Murti, S. Sos)

Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=67493:gunung-sinabung-anugerah-atau-musibah-&catid=78:umum&Itemid=139


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: