Kita Adalah Bersaudara

18 09 2010

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. 49 ; 10)

ManajemenQolbu.Com : Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmaiin, “Innamalmu’minuna ikhwatun faashlihu bayna akhowaikum wattaqullooha la’allakum turhamuun” (Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al Hujurat (49) ayat 10 ) Saudara-saudaraku, sahabat-sahabat sekalian Innamal mu’minuuna ikhwah ,orang yang beriman itu adalah bersaudara bukan musuh jika terjadi sedikit perbedaan seperti perbedaan qunut, ushali, atau jumlah rakaat shalat tarawih , hal itu tidak harus menjadi musuh, karena musuh kita adalah kaum dzolimin.

“Yaaayyuhalladzina aamanu laayasskhor qoumun minqaumin aasaa ayyakuunuu khayrom minhum walaanisaaum minnisaain aasaa ayyakunna khoyrom minhunna walaatalmizuu anfusakum walaatanabbazuu billalqob bi’sal ismullfusuqu ba’dall iiman wamallam yatub faaulaaika humudloolimuun”(Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim) (QS. Al Hujurat(49) ayat 11)

Ayat ini membahas mengenai larangan mengejek satu kaum terhadap kaum yang lain yang sama-sama punya iman walaupun misalnya berbeda partai akan tetapi sama-sama beriman kepada Alloh SWT,tidak boleh saling mengejek. Begitu juga jika sama-sama kelompok majelis ta’lim, sesama ustadz saling mengejek? Naudzubillah. Lalu kenapa disini disorot wanita harus mampu mengendalikan ucapannya. Hal ini kemungkinan disebabkan pekerjaannya kurang banyak sehingga waktu yang ada digunakan untuk mengobrol. Jadi jelas sekali Al Quran melarang wanita atau akhwat jangan suka mengejek yang lain karena bisa jadi wanita yang kita ejek itu lebih mulia dihadapan Alloh daripada yang mengejek , ini harus hati-hati karena Alloh-lah Yang Melarang Mengolok-olok, selain itu tidak boleh kita menghina diri sendiri, karena orang yang mengejek diri sendiri dapat dikatakan kufur nikmat, jangan suka membanding-bandingkan dengan orang lain, karena semuanya Alloh-lah Yang Menciptakan.

Jangan suka mengolok-olok atau dengan panggilan yang buruk misal kafir, fasik, munafik, monyet atau panggilan yang tidak baik yang berhubungan dengan Iman atau menghina orang tua orang lain karena dengan begitu berarti sama saja dengan menghina orang tua kita, tetapi panggilah dengan gelaran-gelaran yang baik.

“Yaayuhalladzina aamanujtanibuu katsiromminadldlonni inna ba’dodzonni itsmuwwalaa tajassasu walaayagtab ba’dlukum ba’dzoon ayyuhibbu ahadukum ayya’ kula lahma akhihi maytan fakarihtumuuhu wattaqulloha
innalloohattawwaburrohim” (Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang”) (QS. Al Hujurat(49) ayat 12 )

Prasangka itu ada dua macam; husnudzon atau Suudzon, ada baik sangka dan ada buruk sangka, ketahuilah yang sebagian prasangka itu adalah dosa,yang tidak boleh itu adalah Suudzon itu ,misalnya kita mengatakan kepada rekan kita tentang rekan kita yang lain “hey hati-hati si fulan suka buruk sangka kepada kita ? sebenarnya itu sudah termasuk berburuk sangka kepada orang lain. Oleh karena itu kita harus waspada.

Tapi husnudzon pun jatuhnya hanya kepada orang yang beriman , misalkan di bis ada yang membuka dompet kita , lalu kita berbaik sangka “oh mungkin dia akan menghitungkan uang saya…” , itu tentu baik sangka yang konyol karena pasti orang itu adalah pasti copet. kepada orang yang beriman jangan sering melakukan “walaa tajassasu” suka mengorek-ngorek aib, suka mencari-cari kesalahan kecuali untuk tindakan keadilan pencegahan kemunkaran, saudaraku dengan menceritakan keburukan orang lain berarti kita telah ghibah, ghibah itu batasannya kalau ucapan yang diceritakan membuat orang sakit hati andaikata mendengarnya.

“Yaayyuhannasu innaa kholaqnakum mindzakarin auuntsa wajaalnaakum syu’ubaw waqobaaila lita’arofu inna akromakum ‘inndalloohi attqookum innallooha’ aliimun khobir” (Hai manusia , sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal) (QS. Al Hujurat(49) ayat 13)

Manusia diciptakan berbagai suku,berbagai bangsa semua itu ditujukan agar saling kenal-mengenal, kita jangan membenci orang Amerika karena orang Amerika tidak pesan untuk dilahirkan di sana, di Amerika yang sholeh ada yang bathil pun ada, persis sekali di kita yang sholehnya hanya sedikit, darimana kita tahu di Indonesia yang sholehnya sedikit? Karena kalau di kita yang orang yang sholehnya banyak tentu tidak  negara kita bangkrut seperti ini.

Dalam kehidupan ini tidak boleh saling menghina karena perbedaan Negara, ada yang diciptakan di Amerika, Cina, jangan menghina negaranya! yang buruk itu adalah keputusan-keputusan politiknya, ketidakadilannnya dalam menyelesaikan suatu masalah. Pernikahan tidak boleh terhadang oleh perbedaan suku, karena semuanya sama-sama diciptakan Allah SWT. Ketika zaman Rasulullah Muhammad SAW, Bilal yang hitam legam tetap mulia disisisi Allah, lalu Salman Al Farisi dari Persia tetap saja mulia disisi Allah, sebenarnya perbedaan lintas Negara, suku, bangsa merupakan nilai Ukhuwah inna akromakum ‘inndalloohi attqookum yang mulia bukan warna, kulit, jabatan, gelar, pangkat, akan tetapi yang shleh dan taat pada Alloh SWT itulah yang mulia.

Wallahua’lam(and/mikha/aef)[manajemenqolbu.com]***


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: