Kep. Seribu: Bertamu ke Zona Inti

26 10 2010

Beruntung. Begitulah kalau bisa menjambangi zona inti taman nasional. Maklum kawasan ini bukan untuk kegiatan wisata, perlu izin khusus untuk memasukinya. Keberuntungan itu juga berpihak pada saya belum lama ini, karena berkesempatan menjambangi beberapa pulau yang masuk kawasan utama Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS). Meski cuma memantau kondisi alamnya sekilas, paling tidak keinginan menginjakkan kaki di zona inti, terwujud.
Mendengar ada operator perjalanan yang diperbolehkan menjambangi zona inti TNLKS, bukan cuma saya yang senang. Sejumlah orang turut gembira dan antusias menjadi peserta. Maklum kesempatan ini langka, dan belum tentu datang dua kali. Selama ini beberapa kali ke Kepulauan Seribu, saya belum pernah masuk ke zona inti. Hanya ke pulau-pulau wisata dan cagar alamnya saja seperti Pulau Onrust, Sepa, Untung Jawa, dan Pulau Rambut.

Anita, salah satu peserta yang sebenarnya lebih menyukai mendaki gunung dari pada ke pulau akhirnya tertarik ikut setelah mendengar kabar itu. “Kebetulan belum pernah ke Kepulauan Seribu, apalagi ke zona inti. Kan jarang orang bisa pergi ke sana,” kata karyawati sebuah perusahaan swasta di Jakarta ini.

Jum’at pagi, saya dan rombongan peserta lain bertemu di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara untuk menyeberangi Teluk Jakarta. Setibanya di dermaga, terlihat deretan kapal pesiar kecil (yacht) yang didominasi warna putih. Menurut salah seorang nahkodanya, pemilik yacht tersebut kebanyakan orang asing dan warga keturunan yang sukses. Kondisi dermaga cukup bersih dan tertata sehingga enak dipandang mata, sepintas seperti berada di luar negeri. Tapi masih ada saja orang kapal yang sembrono membuang sampah ke laut, padahal tersedia tong-tong sampah.

Di dermaga, lebih kurang 50 peserta berkumpul. Mereka nampak senang dan tak sabar ingin segera berlayar. Namun pihak kapal cepat yang kami sewa tidak mau berangkat dengan alasan jumlah orang dan barang melebihi kapasitas angkut. Bendi, ketua operator perjalanan sibuk bernegosiasi. Tiga jam lebih kami menunggu kepastian, beberapa peserta kecewa. Akhirnya diambil kesepakatan, kapal cepat tetap berangkat tapi sesuai kapasitas. Sisanya menggunakan kapal kayu yang didatangkan dari Muara Angke, sekitar 30 menit dari dermaga.

Jelang siang, kapal cepat meninggalkan dermaga. Saya dan lainnya harus menunggu kapal kayu yang masih ada di Muara Angke. Setengah jam kemudian kapal impian datang. “Ini baru petualangan, nikmati saja”, kata seorang peserta, seolah menghibur sekaligus menyindir setelah melihat kondisi kapal kayu. Jika dibandingkan dengan kapal motor cepat yang sudah berangkat lebih dulu, jelas beda. Kapal motor cepat lebih keren dan berkelas, waktu tempuhnya pun singkat. Tapi apa boleh buat, kami terpaksa berangkat dengan kapal kayu yang bermesin bising dan waktu jangkaunya lebih lama sekitar 3,5 jam.

Belum ada 15 menit bergerak, tiba-tiba kapal kayu berhenti. Ternyata penyedot airnya tersumbat sampah plastik sehingga harus dibersihkan. Anak buah kapal, segera terjun ke laut membuang sampah yang tersedot. “Ini sudah biasa, nggak usah takut ,” kata Jalal, sang nahkoda mencoba menenangkan beberapa peserta yang rada cemas.

Kapal kembali melaju, saat itulah terlihat tumpukan-tumpukan sampah terombang-ambing arus laut, antara lain kantung plastik, pembungkus mie instan, botol minuman mineral, kayu sampai perabot rumah tangga seperti bangku dan kasur. “Sampah-sampah itu nantinya terdampar di beberapa pulau,” jelas Jalal yang mengaku kelahiran Pulau Pramuka.

Melihat kondisi itu, saya semakin yakin perairan Teluk Jakarta lambat laun bakal menjadi lautan sampah, kalau mental dan prilaku masyarakatnya tetap jorok. Warna airnya pun rada keruh dan bau akibat buangan limbah industri, pabrik dan rumah tangga yang tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Matahari tepat di atas kepala saat kami tiba di dermaga Pulau Pramuka. Anak-anak pulau terlihat asyik bermain di sekitar dermaga, bahkan ada yang berenang.

Rombongan pertama sedang berada di kantor TNLKS, melihat penangkaran Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Rombongan kedua segara menyusul. Beberapa panitia sibuk menyiapkan makan siang dengan menu gado-gado dibantu beberapa anak buah kapal.

Pulau Pramuka merupakan ibukota Kabupaten Kepulauan Seribu. Di pulau paling selatan dalam gugusan Kepulauan Seribu ini tersedia kompleks pusat pengunjung, warung, sewa alat snorkeling dan diving, masjid besar, lapangan sepak bola, satu SMU, pesanggrahan/wisma tamu, bumi perkemahan, pusat informasi, dan pemandu wisata yang siap mengantar pengunjung ke obyek-obyek yang ada.

Pulau ini didiami penduduk dari bermacam suku. Kendati penduduknya kian bertambah, namun masih banyak tanaman besar yang tumbuh. Berbeda dengan pulau terdekatnya, yakni Pulau Panggang yang terlihat padat dan gersang, hanya deretan rumah permanen seperti layaknya di kota. Pulau Kelapa juga dipadati penduduk. Ketiga pulau tersebut masuk Zona Pemanfaatan Tradisional TNLKS, dimana masyarakatnya tetap diperbolehkan menangkap ikan dengan alat tradisional separti jaring, pancing, dan bubu. Tapi kenyataannya banyak yang mengunakan bom hingga merusak biota laut. “Yang ngebom masih aja ada,” terang Jalal.

Seluruh rombongan kemudian bertolak ke Pulau Kuburan Cina dipandu polisi hutan atau jagawana. Selama perjalanan, kondisi laut nampak lebih bersih tak ada sampah dan airya pun jernih. Beberapa pulau-pulau kecil menjadi sajian lain yang menawarkan keindahan. Jelang sore kapal kayu mendekat di Pulau Kuburan Cina yang super mungil dan tak berdemaga. Dari kejauhan pantainya yang berpasir putih dan deretan pohon cemara laut jelas terlihat serta beberapa tenda yang telah disiapkan panitia dan beberapa tenaga porter.

Dengan sampan semua peserta diangkut bergantian. Beberapa peserta tak kuasa menahan hasrat berenang. Mereka langsung terjun ke laut dari kapal dengan pelampung menuju pantai. Setibanya di pantai, ada yang langsung ber-canoeing dan snorkeling, ada pula yang duduk-duduk di bentangan pasir sambil menunggu sang surya tenggelam. Meski namanya Kuburan Cina, namun di pulau ini tidak ditemukan satu pun makam atau kuburan.

Pulau Kuburan Cina tidak memiliki sumber air tawar. Panitia harus membuat MCK darurat. Air tawar terpaksa harus diambil berulangkali ke pulau terdekat. Di saat peserta asyik menikmati beragam aktivitas bahari, panitia mulai sibuk menyiapkan minum dan makan malam. Ikan bakar menjadi menu pilihan. Proses memasak terganggu lantaran hujan turun. Alhasil, pembagian menu tersendat.

Usai bersantap, beberapa peserta masuk tenda, banyak pula yang menghamparkan matrasnya di pantai lalu tidur. Beberapa peserta memancing ikan dari kapal kayu. Tengah malam hujan kembali turun, beberapa panitia, peserta dan porter pria pindah ke saung beratap seng yang bocor dan beberapa lagi berteduh di bawah pohon lantaran tenda sudah penuh.

Keesokan paginya, setelah sarapan peserta kembali ber-snorkeling dan canoeing. “Ikannya lebih berwarna tapi hard corral-nya tidak sebagus di Karimunjawa,” aku Riani, salah satu peserta perempuan yang gemar snorkeling.

Tempat Peneluran Alami

Usai puas snorkeling, seluruh peserta menuju Pulau Peteloran Barat dan Penjaliran Timur yang masuk zona inti TNLKS. Selama perjalanan, kondisi air laut nampak bersih dan jernih. Beberapa pulau mungil manawarkan pemandangan berbeda. Satu jam lebih, kapal mendekati Pulau Penjaliran Timur yang tidak berdermaga, sama seperti Pulau Peteloran.

Mengingat waktu kunjungan sangat singkat, rombongan dibagi dua. Ada yang ke Penjaliran Timur dan sebagian lagi ke Pulau Peteloran Barat. Saya dan beberapa rekan memilih menyusuri seperempat Pulau Penjaliran Timur bersama Saptawi Sunarya, 36, polisi hutan TNLKS. “Kedua pulau ini masuk zona inti karena menjadi tempat peneluran alami penyu sisik dan perlindungan hutan bakau,” jelas Saptawi.

Namun untuk melihat penyu sisik bertelur, tidak harus menunggu lama di kedua pulau tersebut apalagi sampai bermalam, kecuali para peneliti yang sudah mengantongi izin penelitian. “Pengunjung biasa disarankan ke Pulau Pramuka sebagai tempat pelestarian dan penangkaran penyu sisik sejak tahun 1995,” tambah Saptawi. Saat trekking di Pulau Penjaliran Timur, beberapa pohon besar tumbang di pantai karena tergerus ombak.

“Seperti habis kena tsunami,” kata salah satu peserta. Oleh beberapa peserta, deretan pohon yang tumbang beserta akar-akarnya itu justru dijadikan latar belakang pemotretan. Di pulau ini terlihat plang berwarna hijau bertuliskan nama pulau tersebut dengan luas 14 hektar yang masuk wilayah admisnistratif DKI Jakarta. Vegetasinya cukup lebat, antara lain bakau, pohon kelapa, pandan laut, cemara laut, dan semak belukar. Di sana juga terdapat pos penjagaan yang kadang didatangi petugas secara berkala untuk memantau kondisi pulau. “Dulu di perairan pulau ini terdapat kapal karam, namun bangkainya sudah hilang,” lanjut Saptawi.

Kendati letak Pulau Penjaliran Timur jauh dari daratan Jakarta, namun sampah cukup banyak berserakan di pantainya. Tak jauh dari pulau ini terlihat Pulau Sebaru.

Pulau lain yang masuk zona inti TNLKS adalah Pulau Belanda, Kayu Angin, dan Pulau Bira serta enam terumbu di sekitarnya. Kawasan ini khusus diperuntukkan untuk menjaga ekosistem terumbu karang. Selain itu, Pulau Penjaliran Barat untuk melindungi hutan bakau dan Pulau Gosong Rengat serta Peteloran Timur untuk perlindungan habitat peneluran penyu sisik.

Usai memantau kawasan inti, semua peserta kembali naik kapal kayu dan bergerak ke daratan Jakarta, membawa kesan mendalam dari zona inti Kepulauan Seribu.

Tips Perjalanan

Ada beribu cara menggapai Kepulauan Seribu. Dari Tangerang, Anda bisa menuju Tanjung Pasir. Dari sana tinggal naik perahu ke Pulau Untung Jawa yang terkenal dengan kripik sukunnya dengan ongkos cuma Rp 5.000 per orang. Atau bisa langsung mencarter perahu ke Pulau Rambut dan pulau-pulau arkeologi.

Dari Jakarta Utara, tepatnya Marina Ancol ke Pulau Pramuka Anda bisa naik kapal wisata (speedboat) pulang pergi Rp 350.000/orang. Lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Atau naik kapal cepat Lumba-Lumba Trans Jakarta Rp 25.000/orang. Mau yang lebih murah naik ferry sekali sehari dari dermaga 21 Ancol. Waktu tempuhnya tentu lebih lama sekitar 3,5 jam. Dari Tanjung Priok ke Pulau Panggang terdapat transportasi laut dua kali seminggu. Setiap hari Sabtu juga diselenggarakan perjalanan laut dengan jet foil, lebih kurang 1 jam.

Kalau senang berpetualang, berangkat saja dari Muara Angke. Dari tempat ini, Anda dapat naik ‘ojek laut’, yakni kapal kayu yang berfungsi sebagai angkutan umum laut dari Muara Angke Rp 18.000 per orang berangkat pukul 7 pagi ke Pulau Pramuka, sekitar 3,5 jam. Bisa juga dari Muara Karang ke Pulau Pramuka Rp 15.000 per orang.

Jika tujuannya memancing, Anda bisa menyewa kapal kayu di Muara Angke atau di Pulau Pramuka. Sewa per kapal tergantung letak perairan dan pulau yang dituju. Tarifnya bisa ditawar.

Sumber: Majalah Travel Club


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: