Muscat: Gurun pun Berubah Jadi Taman

26 10 2010

Oman? Di manakah negara itu pada jazirah Timur Tengah? Maklum, negara itu tak sepopuler Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, atau lebih-lebih Irak. Dan memang Oman hanya negeri kecil di Semenanjung Arab dengan panjang pantai 1.700 km. Luas wilayahnya 309.500 km2 dan jumlah penduduk sekitar 2,3 juta (termasuk para pendatang sekitar 500 ribu orang).
Penduduk aslinya adalah orang Arab berkulit lebih terang ketimbang orang Arab Saudi. Selama seminggu bergaul dengan mereka, khususnya yang di perkotaan, saya mendapat kesan bahwa orang Oman lebih mriyayeni ketimbang mereka yang saya jumpai di Makkah atau Madinah.

Ya, Oman memang kecil tapi kaya berkat tambang minyak dan gas. Tahun 2007, 79% dari total penerimaannya berasal dari kedua komoditas itu(sekitar 5.565 juta riyal Omani). Komoditas lainnya yang menonjol adalah parfum dan frankincense (semacam ratus pengharum ruangan) dengan destinasi ekspor ke lebih dari 100 negara. Produksi kurmanya pun melimpah. Bahkan kini, negara tersebut sedang mengeksplorasi sektor perikanan dan kelautan dengan pelabuhan modern bernama Sultan Qaboos.

Nama pelabuhan itu diambil dari nama pemimpin Oman, yaitu Sultan Qaboos bin Said. Dia seorang pria setengah baya dengan wawasan luas yang sangat dihormati dan dipuja rakyatnya. Maka tak perlu heran kalau Anda datang ke sana, selain pelabuhan, hampir semua fasilitas publik memakai namanya seperti universitas, rumah sakit, atau masjid.

Lanskap Oman benar-benar cantik dilihat dari kombinasi antara dataran tinggi dan rendah dengan nuansa gurun. Kita bisa menikmati Taman Riyam di pinggir pantai bersama keluarga atau kolega sembari menikmati kebab, kopi Omani atau hamburger maupun pizza. Asyik juga menikmati rekreasi pantai untuk publik di Marina Bandar Rowdha berdekatan dengan Marine Science and Fisheries Centre (Pusat Penelitian Perikanan Oman).

Kota Muscat juga menyenangkan untuk disusuri. Jangan membayangkan kota itu hanya penuh gurun dan gurun. Sebab, kebanyakan kota besar di jazirah Arab (sebut saja Jeddah, Abu Dhabi, atau Dubai) “memetamorfosis” kota gurun pasir menjadi setipe dengan kota-kota di Eropa atau Amerika, plus tatanan taman kota yang nyaman. Muscat pun tak ketinggalan. Taman kotanya sangat mirip dengan yang ada di Kokenhorf, Belanda. Dan itu pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ketika saya menanyakan hal itu pada Ahmed, Public Relations Departemen Perikanan Oman, lelaki itu menjawab singkat sembari terkekeh, “Pasti banyak riyal harus dikeluarkan untuk itu.”

Dengan “kota baru” yang disulap dari gurun pasir seperti itu, saya jadi penasaran bagaimana sebenarnya sistem drainase dan perawatan taman cantiknya. Ternyata tanah gurun pasir dikeduk dan diganti dengan tanah yang subur (dibuatkan semacam pot raksasa) dengan pipa kapiler yang permanen, ditanam di bawah dan di atas tanah. Untuk perawatan taman, ada petugas yang jumlahnya disesuaikan dengan rasio luas taman bunga/pohon di sepanjang jalanan kota. Mereka berseragam oranye dan selalu siap dengan sapu dan tempat sampah untuk menyapu pasir gurun yang setiap saat diterbangkan angin. Wow!

Biasanya, turis di Muscat bakal mendapat pertanyaan: sudahkah Anda ke suz (pasar tradisional) di Matrah yang ada di tepi pantai? Di sana ditawarkan berupa-rupa barang seperti kerajinan tangan, pengharum udara khas Omani (mirip ratus yang dibakar), pasmina, baju, serta emas dan berlian. Pasarnya sangat khas dan antik. Kalau pinjam istilah anak muda, pasarnya Timur Tengah banget. Paling tidak kalau dibandingkan dengan Pasar Seng di Makkah yang sudah mengakomodasi selera jamaah haji Indonesia. Padahal, penjualnya kebanyakan pendatang dari India, Bangladesh, Turki, Maroko, atau Pakistan.

Harga barangnya, wah jangan tanya. Benar-benar menguras uang saku. Apalagi riyal Omani lebih mahal daripada riyal Saudi, bahkan dengan dolar AS (100 dolar AS = 38 riyal Omani). Tapi tidak perlu khawatir, asal kita piawai dalam tawar-menawar, insya Allah dapat barang dengan harga “realistis”. Seorang teman dari Oman memberikan sedikit bocoran, “Tawarlah hingga 30-50% dari harga yang dipatok penjual.”

Meski begitu, saya dan Tri Winarni, teman sekonferensi dari Fakultas Perikanan Undip, sering kerepotan juga. Pasalnya, setiap transaksi, kami harus mengonversi riyal Omani ke rupiah dulu. “Yah, selisih 0,5 riyal saja kan sudah Rp 17.500,” seloroh saya.

Di luar itu semua, sebenarnya ada sedikit keraguan dalam hati kami ketika hendak memenuhi undangan berkonferensi di Oman. Pasalnya, kami perempuan. Aman dan nyamankah negara di Arab itu untuk turis perempuan?

Sebelum berangkat kami menyempatkan diri browsing di situs “Lonely Planet Traveler”. Di situ disebutkan bahwa wanita tidak disarankan pergi sendiri. Wah, gawat. Selain itu, week end di sana berbeda saatnya dengan di kebanyakan negara, yaitu pada hari Kamis dan Jumat. Begitu juga, jam bisnis akan tutup setelah shalat dzuhur hingga magrib. Akhirnya sekitar delapan jam dari Jakarta dengan pesawat Etihad (anak perusahaan Emirate Airways) kami sampai di Muscat. Lalu kami tahu, kekhawatiran sebelum berangkat terlalu berlebihan. Oman adalah negara Arab modern, berperadaban bagus, dan tidak menakutkan bagi traveler wanita.

Pemerintah Oman juga punya kebijakan yang bagus terhadap perempuan. Bukti sederhana, 8 Maret lalu ketika saya memaparkan kertas kerja bertepatan dengan Hari Wanita Sedunia, secara khusus Sultan Qaboos bin Said memberikan ucapan selamat untuk peringatannya.

Begitu juga ketika saya berkunjung ke Universitas Sultan Oman, yang tekun berkuliah juga kebanyakan kaum wanita. Demikian pula dalam banyak lapangan pekerjaan, dan forum-forum ilmiah, yang aktif kebanyakan kaum Hawa. Ya, meskipun jabatan penting masih dipegang kaum pria, dari pantauan sekilas, saya merasa bahwa partisipasi dan emansipasi wanita Oman sudah baik.

Sumber: Suara Merdeka


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: