Mestikah Kita Takut pada Islam?

18 11 2010

Ada penjahat di AS keturunan Afrika tak ditampilkan mewakili sebagai komunitas di berita TV. Tapi mengapa Islam selalu diberitakan secara berlebihan?
Hidayatullah.com–Pada masa ketika bangsa kita menyaksikan meningkatnya perilaku intoleran, yang melintasi batas-batas budaya, entah berdasarkan ras, agama atau orientasi seksual, pada saat yang sama kita terpaku pada berita media nasional yang dipenuhi konflik dan kontroversi padahal kita sangat membutuhkan media yang melaporkan fakta-fakta secara berimbang. Sebuah acara berita nasional baru-baru ini menguatkan keprihatinan ini. Izinkan saya menerangkan apa yang saya maksud.

Bayangkan sebuah acara televisi ternama atau artikel majalah berita dengan judul, Mestikah Orang Amerika Takut pada Orang Kulit Hitam?
Bayangkan musik hip-hop stakato mengawali acara itu, dengan klip-klip yang menampilkan anggota geng kulit hitam yang memikul senjata, berkeliaran di kota, dan tampak menyeramkan. Bayangkan sebuah tato di pundak yang gambarnya diperbesar dan tato itu bertuliskan “Jahat sepanjang Hayat” (Thug for Life).
Begitu pembawa acara (yang namanya cukup terkenal) membuka acara, bayangkan bahwa pakar kulit putih yang hendak menyampaikan pendapat tentang akar penyebab kerusakan kota adalah orang yang dikenal rasis seperti David Duke, mantan perwakilan dari negara bagian Louisiana dan pemimpin Ku Klux Klan – sebuah gerakan supremasi kulit putih yang pernah meluas. Dengan muka polos, dan tanpa perasaan bersalah, pembawa acara meminta pendapat dari Duke, lalu Duke pun menyatakan, “Ketika orang Amerika melihat kerusuhan Los Angeles, mereka melihat masa depan mereka,” yang merujuk pada kerusuhan pada 1992 yang meletus menyusul pembebasan empat polisi kulit putih yang diadili lantaran memukuli Rodney King, seorang pengendara motor beretnis Afrika-Amerika.
Bayangkan kamera-kamera televisi berusaha mencari pendapat orang-orang kulit hitam “yang sebenarnya”. Daerah mana yang para kamerawan itu datangi? Kawasan kumuh tentu! Maksud saya, di mana lagi orang-orang kulit hitam tinggal?
Pembawa acara mengundang orang-orang Amerika biasa untuk meminta para pakar menjelaskan patologi orang kulit hitam: “Mengapa musik rap sangat merendahkan perempuan?” tanya Cynthia dari Wyoming. “Mengapa banyak sekali orang kulit hitam yang berada di lapis ekonomi dan pendidikan paling bawah?” tukas Chuck dari New York.
Apakah permulaan ini tidak mengenakkan? Tentu ya. Tanya saja Don Imus, seorang pembawa acara radio Amerika yang ditembak pada 2007 lantaran melontarkan ucapan rasis dan seksis, tentang “nikmatnya” membuat stereotipe tentang orang-orang kulit hitam. Tambahkan orang-orang Yahudi, Katolik, kaum gay dan yang lain. Bukan ide yang bagus.
Kini gantilah orang kulit hitam dengan Muslim, dan begitulah bagaimana ABC News memperlakukan Islam dan Muslim dalam acara-acaranya, 20/20 dan This Week with Christiane Amanpour.
Ada klip-klip video “wajib” tentang kamp pelatihan teroris, pesawat-pesawat yang terbang menuju Menara Kembar WTC, korban-korban “pembunuhan demi kehormatan”. Para pakar Muslim yang tampil – yang terkesan “islami” karena berjenggot panjang dan berpeci – diantaranya adalah satu orang yang menyatakan bahwa suatu saat bendera Islam akan berkibar di atas Gedung Putih. Para pakar non-Muslim yang tampil – Robert Spencer (dedengkot anti-Muslim dalam kontroversi Park51), Ayaan Hirsi Ali (penulis anti-Muslim yang banyak karyanya) dan Franklin Graham (yang mengatakan Islam “adalah agama yang sangat jahat dan keji “) – dikenal, bahkan kondang, dengan lontaran-lontaran kebencian anti-Muslim.
Tentu, tokoh-tokoh ini dengan tegas “sepakat” dengan orang-orang yang berjenggot panjang dan berpeci putih itu, dan mengulang propaganda bahwa Islam menuntut para pemeluknya untuk menguasai orang lain. Di antara Muslim “biasa” yang diwawancarai adalah seorang perempuan bercadar (kurang dari satu persen Muslimah di Amerika mengenakan cadar), dan orang-orang Muslim di kota-kota yang dipandang banyak Muslimnya seperti Dearborn, Michigan dan Patterson, New Jersey.
Apakah sebagian orang Amerika takut pada orang kulit hitam? Tentu. Tapi kita tidak menguatkan ketakutan-ketakutan itu melalui penggambaran tampang sok polos dalam acara berita terpandang. Tapi mengapa ketakutan pada Muslim diperkuat oleh siaran-siaran televisi?
Adakah penjahat di Amerika yang merupakan orang Afrika Amerika? Lagi-lagi, ya. Tapi mereka tidak ditampilkan sebagai mewakili komunitas mereka dalam acara-acara berita ternama. Mengapa acara-acara serupa mencari-cari orang Muslim yang paling menakutkan dan secara berlebihan menampilkan mereka sebagai juru bicara [semua umat] Muslim?
Tidak ada jurnalis yang akan meminta orang kulit hitam yang membawa tas kerja di jalanan untuk menjelaskan patologi seorang penjahat Afrika-Amerika hanya karena warna kulitnya sama. Tapi para jurnalis meminta Muslim Amerika biasa untuk menerangkan perilaku orang-orang yang senang membunuh dan para ekstremis, dan dengan begitu menghubung-hubungkan antara orang-orang yang “gila” dan komunitas kebanyakan.
Adakah orang-orang yang ingin mengungkapkan teori rasis tentang kejahatan orang kulit hitam, dari masalah dalam gen orang kulit hitam hingga berbagai kekurangan dalam budaya orang kulit hitam? Banyak. Tapi mereka muncul di acara berita hanya sebagai contoh rasisme, bukan sebagai pakar tentang ras.
Kita sedang di tengah perbincangan nasional tentang rasa memiliki. Ancaman pembakaran al-Qur’an di Florida dan kontroversi seputar pusat kegiatan Islam di pinggiran Manhattan adalah contoh dari perbincangan nasional tentang apakah Amerika bisa membentangkan tangan lebar-lebar untuk juga merengkuh kaum Muslim. Penggambaran yang sensasional dan tak bertanggung jawab tentang Muslim dalam media populer memang bukan penyebab Islamofobia, tapi bisa memperparah. Acara berita dan laporan media belakangan tidak turut menerangkan ataupun memahami perbincangan nasional ini; sungguh disayangkan.

Tapi perbincangan ini harus berlanjut. Dan saya harap perbincangan ini berlanjut di masjid-masjid, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan tempat-tempat suci yang lain, dan orang Amerika dari semua agama bicara bertatap muka tentang perbedaan dan tentang kemanusiaan kita bersama – bebas dari stereotipe yang belakangan sangat mencolok dalam acara televisi dan majalah kita. [ditulis  Keith Ellison (D-MN) di newsweek.washingtonpost.com, Ellison adalah Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres AS. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) seizin pengarang]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: